gototopgototop
Ngaji al-Hikam; Berbagi Bekal Kehidupan PDF Print E-mail
Written by Walisongo   
Tuesday, 29 November 2011 23:38

Sebagai sebuah organisasi kekeluargaan yang berlabelkan studi, Kelompok Studi Walisongo (KSW) berusaha menginterpretasikannya dengan mengadakan agenda-agenda keilmuan. Dalam hal ini, Dept. Pendidikan KSW  yang mempunyai peran penting di dalamnya. Dari berbagai macam kegiatan keilmuan yang telah sukses terlaksana, salah satunya adalah kajian kitab al-Hikam. Kitab ini berisi hikmah-hikmah kehidupan yang ditulis oleh Ulama besar Ibnu Athoilah al-Sakandary. Kitab cukup populer dan cukup untuk membekali kita Masisir sebagai bekal dakwah ketika pulang ke tanah air. Sehingga kitab ini, merupakan pilihan yang tepat apabila Dept. Pendidikan KSW memilih al-Hikam untuk dijadikan bahan kajian.

 

Ngaji kitab al-Hikam yang sedikit berbau pondok pesantren ini, tidak begitu monoton dan membosankan. Kegiatan yang diadakan di Aula Griya Jawa Tengah ini, lebih interaktif antara pembicara dan pendengar. Ada sebuah komunikasi tersendiri, sehingga membuat kajian ini lebih menarik dan diminati oleh para Masisir terutama warga KSW.

 

 

Sebagai salah satu terobosan baru KSW periode 2011-2012, kegiatan ini berjalan cukup sukses. Dari launching perdananya yang terlaksana tanggal 29 Oktober 2011. Kegiatan ini sudah terlaksana 3 kali. Kajian yang ke dua, terlaksana pada tanggal 05 November 2011. Dan kajian ke tiga terlaksana pada tanggal 29 November 2011. Pada dasarnya sifat dari kajian ini adalah kajian rutinan setiap hari Sabtu pukul 15.00 CLT. Tetapi, tidak menutup kemungkinan ada satu atau dua hari yang libur dikarenakan ada halangan tertentu. Yang jelas, Dept. Pendidikan tidak henti-hentinya mengingatkan para warga untuk hadir dalam kajian dengan mengirimkan informasi lewat berbagai jejaring sosial dan via hp. Diharapkan dari rutinnya kajian tersebut, seluruh hikmah yang ada dalam kitab tersebut akan habis terbahas.

 

Ust. Mahmudi Muhson, MA. yang piawai dalam memahami kitab diminta untuk menjadi pembicara. Dari 3 pertemuan, beliau hanya bisa menjadi pembicara dalam 2 pertemuan saja. Hal itu dikarenakan, setelah pertemuan yang kedua, beliau izin untuk pulang ke tanah air tanah air. Sehingga Ust. Syaifuddin, MA. yang sama-sama piawai dalam hal ini, diminta bantuannya untuk menggantikan Ust. Mahmudi Muhson, MA.

 

Laiknya sebuah kajian, kegiatan ini berjalan cukup menarik.  Dengan rata-rata peserta yang berjumlah 20-50 orang, kajian ini terasa hidup. Walau kadang banyak dari peserta yang belum memegang kitabnya sendiri, kajian tetap berjalan lancar. Karena model penyampaian yang lebih interaktif dan tidak monoton. Pembicara hanya membaca matan hikmah nya saja. Dan untuk penjelasannya, beliau lebih banyak menyampaiakan dari pemahaman-pemahaman beliau dari kitab yang sudah ada syarh nya, atau dari referensi lain.

Last Updated on Thursday, 29 December 2011 15:08
 

Add comment


Security code
Refresh