|
Ahad, 27 November 2011, Kairo selepas dhuhur. Cuaca siang itu sungguh tak bersahabat. Bayangkan saja, di siang bolong matahari yang seharusnya bertugas menghangatkan tubuh kini enggan muncul. Udara pun dingin membeku. Ya, maklumlah karena musim dingin. Tapi, itu semua tak menghalangi warga KSW untuk malakukan agenda rutinnya, salah satunya adalah sekolah menulis. Meski agenda ini terbilang masih baru, namun peserta cukup antusias mengikutinya, terbukti dengan banyaknya peserta yang hadir. 26 orang dalam satu ruangan, merupakan angka yang tidak sedikit untuk sebuah sekolahan. Pertemuan kali ini tidak hanya dihadiri oleh warga KSW sendiri, namun juga oleh warga luar KSW. Karena memang agenda ini disajikan untuk masisir pada umumnya. Landy T Abdurrahman selaku dewan pengurus sekolah ini pun tak menyangka akan hadir peserta sebanyak itu. Hal serupa juga dirasakan Zulfahani Hasyim selaku kepala Sekolah Menulis Walisongo.
Berbeda dengan pertemuan sebelumnya, kali ini sekolah menulis dilaksanakan secara indoor, tepatnya di Aula Griya Jawa Tengah, karena pertimbangan cuaca yang kurang bersahabat. Materi yang disampaikan seputar paragraph deskripsi dan tips menulis fiksi. Zulfahani Hasyim selaku kepala sekolah pun merangkap menjadi guru dalam pertemuan kali ini. Karena memang dalam hal ini, dialah orang yang tepat untuk mengajarkannya.
Tiba saat pembedahan karya tulis. Dalam kesemapatan kali ini ada 2 tulisan yang dibedah. Yang pertama karya Landy T Abdurrahman dengan tipe tulisan romantismenya. Yang kedua buah pena Annisa Fadlilah dengan karangan tanpa judulnya. Satu persatu baik peserta maupun guru saling mengkritik dan mengapresiasi tulisan tesebut. Sekolah ini diadakan secara informal agar pesrta tidak mudah bosan. Jelas terlihat dari gelak tawa canda para peserta saat sang guru mebacakan tulisan salah seorang peserta yang agak sedikit nglantur.
Hari menjelang sore udarapun semakin dingin, rintikan gerimis pun turut membasahi jalannya kota kairo. Terlihat dari balik pintu Faiz Kamal datang membawakan to'miyah bil beidh. Entah kenapa menu kali ini tak beda dengan menu pertemuan sebelumnya. Mungkinkah to'miyah bil beidh akan menjadi ciri khas sekolah menulis ?
Dan pertemuan kedua ini adalah pertemuan terakhir di termin pertama. Lalu, selebihnya akan dilaksanakan pada termin kedua dengan jadwal rutin 1 bulan 2 kali pertemuan. Semoga agenda ini terlaksanakan secara continue dan kelak memberi perubahan terhadap kepenulisan masisir yang saat ini terbilang lesu. Dan berharap dapat menghasilkan karya-karya tulisan yang indah dan menelorkan penulis-penulis handal yang mampu menyaingi penulis terkenal di ranah nusantara. (Erika)
Tulisan Selanjutnya:
Tulisan Sebelumnya:
|