gototopgototop
Pamit Mulih Mbah Yatno dan Mas Akhlis PDF Print E-mail
Written by Walisongo   
Monday, 14 November 2011 00:00

Senin sore (14/11/2011), kota Kairo seoalah menawarkan pesona berbeda. Pasalnya, hujan deras turun mengguyur setiap pojok kota, menampilkan pemandangan yang amat jarang kita temui di negeri Kinanah ini. Dalam suasana kesejukan sore itu, KSW tengah bersibuk dengan persiapan acara tasyakuran oleh dua warganya yang tak lama lagi akan meninggalkan Kairo.

 

Kedua warga ini, sudah tidak asing lagi di telinga warga KSW, bahkan Masisir. Mbah Suyatno Ja’far Shodiq, Lc. dan mas Akhlis Nahari, Lc. Setelah beberapa tahun berkutat dengan diktat kuliah dan perjuangan tanpa henti, akhirnya pada tahun ini keduanya berhasil menyelesaikan studinya di Universitas al-Azhar pada Strata Satu (S1).  Sebagai ungkapan rasa syukur, maka keduanya mengadakan acara wada’an (perpisahan) sekaligus "pamit mulih" kepada seluruh warga KSW khususnya dan seluruh Masisir umumnya.

 

 

Bertempat di aula Griya Jawa Tengah, acara dimulai tepat pukul 18.30 CLT dengan bacaan al-Fatihah, yang dipimpin oleh pembawa acara. Acara selanjutnya, diisi dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an yang dilantunkan oleh Djazam Asfari, mahasiswa asal Bu'uts. Suara merdunya seakan menghipnotis semua tamu yang hadir sehingga tercipta suasana hening serta penuh penghayatan.

 

Usai pembacaan Kalam Ilahi, pembawa acara mempersilahkan kepada setiap perwakilan dari almamater ataupun kekeluargaan yang hadir, untuk menyampaikan sepatah-duapatah katanya tentang kesan dan pesannya terhadap Mbah Yatno dan Mas Akhlis. Antara lain, dari KSW oleh Mahrus Ismail, dari PCINU Mesir oleh Imam Syuhrowardi, dari manager Jum’at Sehat oleh Eko Surtisno, dari IKAMARU oleh Rizka Maulana, dari FAS oleh Muhammad Sholeh Taufik, dari IKSAB oleh Yusuf Hasan, dari Rumah Budaya Akar oleh Zulfahani Hasim, dan terakhir dari marhalah Sapu Jagad oleh saudara Ahmad Qosim. Suasana riuh ramai mengiringi setiap sambutan yang disampaikan oleh para sahabat Mbah Yatno dan Mas Akhlis. Salah satu pesan yang terucap untuk keduanya ialah, “Ingatlah, di atas langit masih ada langit, ojo sok yes lah mengkone ya…hehehe”, tutur Mahrus.

 

Setelah penyampaian kesan dan pesan dari para tamu, tiba gilirannya Mbah Yatno dan Mas Akhlis menyampaikan sambutannya sebagai bentuk kalam akhir. Mas Akhlis dalam kesempatan ini menyampaikan banyak terimakasih kepada seluruh kawan yang hadir ataupun yang tidak sempat hadir, juga tak lupa mengharap do’a restu agar perjalanan kembali ke Indonesia diberi kelancaran serta keselamatan. Kesempatan selanjutnya, disampaikan oleh Mbah Yatno. Berbeda dengan mas Akhlis yang terlihat lebih tegar, Mbah Yatno dalam menyampaikan sambutannya mengguratkan wajah yang tampak sedih, tampak "sesenggukan" di tengah sambutannya. Tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah disampaikan sebelumnya, namun Mbah Yatno sedikit menambahi, bercerita perjalanan menuntut ilmunya yang sangat panjang dan dengan usaha keras. Dimulai setelah beliau tamat Tsanawiyah di desanya, beliau melanjutkan ke pesantren di Pati selama 7 tahun. Pernah juga nyantri di sarang selama 5 tahun, sempat kembali belajar di pati selama 2 tahun sebelum akhirnya beliau berangkat belajar ke negeri Kinanah ini. Sungguh perjuangan yang luar biasa yang patut kita semua teladani.

 

Dengan berakhirnya sambutan dari Mbah Yatno, pembawa acara pun segera menutup acara pada malam ini, yang sebelumnya ada penyerahan piagam dari almamater FAS untuk Mbah Yatno sebagai satu penghargaan sekaligus penghormatan. Acara puncak diisi dengan hidangan kolak khas Pati dan soto ayam.

 

Selamat jalan Mbah Yatno dan Mas Akhlis. Semoga diberi kelancaran segalanya dan diberi ilmu yang manfaat demi membangun kualitas umat yang maju dan ber-akhlaq al-Karimah. Salam kami untuk Bumi Pertiwi![]

Last Updated on Thursday, 29 December 2011 15:02
 

Add comment


Security code
Refresh