|
Prediksi pemilu cukup satu putaran benar adanya. SBY tak mengeluarkan banyak keringat dalam pilpres bulan Juli 2009 silam. Capaian 60 % dari total suara adalah bukti konkrit kemenangan telak SBY dari rival-rivalnya yang notabene adalah wajah “lawas”. (baca: Mega-Prabowo, JK-Wiranto). Walaupun demikian, sang incumbent tak lepas dari masalah. Setelah KPU mengumumkan hasil pemilu, muncul somasi dari pesaingnya.
Di awal euforia kemenanganya, SBY terhentak oleh bom yang meledak di Ibu Kota. Hari itu juga SBY mencak-mencak di hadapan pers. Dua buah bom bunuh diri meledak di hotel JW. Marriot dan Ritz Carlton sebagai upaya untuk menggagalkan kedatangan klub raksasa Manchester United ke tanah air, alasannya mayoritas pemain MU adalah salibis.
Meskipun demikian, ada pihak yang mengaitkan bom tersebut dengan hasil pilpres. Akan tetapi hasil investigasi menyatakan bahwa Noordin M.Top menjadi dalang di balik aksi peledakan tersebut. Pengejaran terus dilakukan di seluruh pelosok tanah air yang ditengarai menjadi tempat persembunyian gembong teroris. Tapi polisi belum juga mampu menangkap Noordin, hanya antek-anteknya saja yang berhasil dijebloskan ke penjara. Noordin masih bisa menghirup udara bebas.
Jiran terus menyerang
Belum hilang dari memori kita, sengketa kepemilikan pulau Sipadan dan Ligitan. Secara de facto empunya adalah Indonesia, namun kenyataannya secara de jure Malaysia berhasil mendapat sertifikat pulau tersebut. Paska kejadian itu, negeri jiran tak henti-hentinya mengakui aset bangsa Indonesia. Tak cuma mengurangi peta geografis NKRI dengan mencaplok teritorial. Budaya dan karya anak bangsa menjadi korban juga. Mulai dari tarian khas ponorogo ”Reog”, tari pendet, hingga lagu daerah. Terakhir ulah mereka adalah mengubah lirik lagu padang "bulan untuk" dijadikan lagu kebangsaan ”negaraku”.
Selain itu pengakuan kepemilikan pulau Jemur, membuat bangsa ini semakin dilecehkan. Gayung pun bersambut, Muncul respon berlebihan dari masyarakat, mereka menggelar aksi sweeping warga negara Malaysia untuk kemudian dipaksa angkat kaki. Bahkan, para pendekar dari berbagai perguruan silat mengaku siap, jika harus berperang melawan Malaysia.
Pemerintah dalam dilema, jasa jiran yang telah bersedia menampung ratusan ribu pengangguran dari Indonesia membuat petinggi bangsa terkesan plin-plan. Upaya untuk mendudukkan persoalan belum sepenuhnya terlaksana. Padahal hal itu sangat dibutuhkan untuk memahamkan masyarakat dalam negeri yang terlanjur berang. Pemerintah harus segera mencari kebenaran. Apakah Malaysia (baca: Malingsia) benar-benar ”maling” atau hal ini hanya miss understanding semata?
Juga pemerintah harus berusaha untuk mandiri, tidak terus membiarkan para pengangguran mengadu nasib di negeri orang. Dengan menciptakan lapangan kerja bagi pengangguran, bangsa ini akan disegani. Terlebih pengangguran menjadi faktor terbesar munculnya kriminalitas. Dengan modal nekat, menghalalkan segala cara, wajar bila kriminalitas merebak. Hukuman belum menjadi medan jera bagi para pelaku kriminal.
Berbanding balik dengan rakyat, pejabat tinggi banyak yang ”nakal”. Menyalah gunakan amanat untuk meraup harta sebanyak-banyaknya. Banyak laporan keuangan yang tak jelas dalam penggunaan dana. Lahirlah korupsi, yang sudah mendarah daging dikalangan pejabat. Dibentuklah Badan untuk menanggulangi korupsi, KPK. Namun, hasilnya jauh panggang dari api, belum memuaskan dan belum betul-betul mampu menyeret para koruptor ke meja hijau.
Menilik dari segelintir masalah yang pelik dan klasik. SBY harus belajar banyak dari era sebelumnya, untuk bisa mengoptimalkan perannya sebagai kepala negara. Bukan tidak mungkin permasalahan klasik akan muncul kembali dalam kurun 5 tahun ke depan. Untuk itu Sby harus punya armada yang profesional. Tidak semata kabinet politikus yang mementingkan bendera partai. []
*Fajar Fandi Atmaja Mahasiswa, tinggal di beranda Facebook.com
|