|
Apakah Anda ingin negara Anda maju? Anda tentu menjawabnya dengan “Ya!”. Setiap orang menginginkan negaranya maju. Tanpa terkecuali. Karena dengan kemajuan tersebut, eksistensi dan kedaulatan negara bisa dipertahankan. Adapun kemunduran sebuah negara kalau tidak cepat diatasi akan mengakibatkan kehancuran. Untuk itulah, bermilyar-milyar dolar anggaran negara terkuras demi kemajuan ini, tergantung kekayaan dan kemampuan negara masing-masing. Lalu apakah mereka sudah bisa dikatakan maju? Setidaknya ada delapan negara yang menjadi anggota negara maju sekarang yang tergabung dalam G8. Negara tersebut adalah: Perancis, Jerman, Inggris, Italia, Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Uni Eropa, dan Rusia (tidak pernah hadir dalam pertemuan). Dalam pertemuan G8, mereka membahas pelbagai isu dan politik negara-negara di dunia. Bahkan, mereka menentukan akan masa depan hutang negara-negara berkembang. Apakah negara-negara G8 ini patut dibilang negara maju? Lalu kenapa harus delapan padahal ada lebih dari 200 negara di dunia?
Menurut Tofler, negara maju adalah negara yang memiliki tiga pilar utama. Pertama, Physical Power (kekuatan fisik), kekuatan fisik ini diimplementasikan Barat sebagai kekuatan militer yang digdaya. Heran kalau AS sendiri mengeluarkan 711 milyar dolar untuk anggaran militernya, itu dana budgeter, adapun dana non-budgeter penulis prediksikan jauh lebih besar. Kita bandingkan dengan anggaran militer kita yang tak lebih dari 3,3 milyar dolar. Jadi, untuk mencapai kekuatan militer sekuat AS kita butuh waktu beberapa tahun lamanya.
Kedua, Economical Power (kekuatan ekonomi), kekuatan ekonomi tak kalah pentingnya dengan kekuatan militer. Karena segala kehidupan bernegara membutuhkan kekuatan ekonomi yang mumpuni. Cadangan devisa negara harus kuat karena, apabila suatu saat negara dilanda perang atau yang lainnya anggaran negara tetap kuat. Barat sendiri sudah mewujudkan kekuatan ekonomi ini dengan dalil pendapatan perkapita negara Eropa di atas 30 ribu dolar, Jepang mencapai 34.500 doalar pertahun, sedangkan negara kita menurut laporan terakhir mencapai 17,5 juta rupiah atau masih di bawah 2000 dolar pertahun.
Sebagai tambahan satu perusahaan minyak saja yaitu Exxon Mobil, asetnya lebih dari kali lipat anggaran belanja negara kita; perusahaan Exxon ini asetnya mencapai 450 milyar dolar, sedangkan APBN kita 1022,6 trilyun rupiah kalau dikurskan dolar 10.000 rupiah maka APBN kita 102,26 milyar dolar.
Ketiga, Intelectual Power (kekuatan intelektual), Barat betul-betul menghargai pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi ini hingga lebih mereka pentingkan daripada agama. Pemerintah negara Barat telah memberikan dana dan sarana sebesar-besarnya untuk kepentingan ini. Mereka sudah mencetak beribu-ribu profesor yang profesional, bahkan mereka mengintai para ilmuwan asing untuk tetap tinggal di negaranya. Untuk itulah universitas-universitas mereka sangat favorit di negera berkembang.
Itulah kemajuan Barat menurut teori Tofler ini, akan tetapi mereka lupa akan akan pilar yang jauh lebih penting dari ketiga pilar di atas, yaitu, Ethical Power (kekuatan moral). Karena kehilangan kekuatan moral ini kita membaca 3 dari sepuluh orang AS ingin bunuh diri karena tidak ada ketentraman pada mereka, budi mereka sangat merosot, orang tua tidak dihormati, perbuatan asusila dianggap lumrah, bahkan jumlah kriminalitas berlipat ganda daripada di negara berkembang. Negara mereka, kalau penulis lihat, bagaikan rumahsakit yang megah secara fisik, fasilitas serba hebat, pelayanan rapi, tetapi berisikan orang-orang sakit yang menunggu kematian ataupun kesembuhan.
Al Qur'an dan Pandangan Negara Maju
Ada beberapa ayat dalam al-Qur'an yang menceritakan kemajuan sebuah negara; Pertama; Ayat tentang negeri Saba`, Allah SWT berfirman yang artinya: "Sesungguhnya bagi kaum Saba` ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan kiri, (lalu dikatakan kepada mereka): "Makanlah olehmu dari rizki Tuhanmu dan bersyukurlah kepadanya, sebuah negeri baik dan Tuhan Maha Pengampun" (QS:34:15)
Ayat ini menceritakan kemajuan negeri Saba` yang gemah ripah loh jinawi dengan dua kebunnya, mereka membangun bendungan di Ma`rab sehingga irigasi berjalan dengan baik. Sebuah negeri makmur yang diridloi Allah, hal ini terjadi sebelum mereka mengingkari akan nikmat-nikmat Allah. Jadi, negeri yang maju dalam ayat ini adalah negeri yang makmur, cukup segala sesuatunya dan diridloi oleh Allah. Irigasi mereka sangat diperhatikan sehingga penggunaan air bisa diatur sedemikian rupa demi kemakmuran bangsa.
Kedua; Allah SWT berfirman yang artinya: Dan Allah telah membuat sebuah perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rizkinya datang kepada mereka berlimpah ruah dari segala penjuru. ( QS: 26:112)
Ayat ini menceritakan bahwa negeri yang maju adalah negeri yang aman, tentram, dan makmur dengan rizki yang melimpah ruah. Hal ini menunjukan bahwa, sebuah negeri yang maju harus makmur dan kuat secara militer sehingga keamanan negara bisa terjamin.
Ketiga; Allah SWT berfirman yang artinya: Yang Telah memberi makanan mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (QS: 106:4) Ayat ini juga mengisyaratkan pada, kemakmuran dan keamanan sebagai pilar negara maju. Jadi, negara maju menurut al-Qur'an mempunyai ciri-ciri yaitu makmur, aman dan diridloi Allah.
Kenapa hanya keamanan, kemakmuran dan keridloan Tuhan yang disebut dalam al- Qur`an tanpa menyebut kekuatan intelektual negara? Menurut penulis, kemajuan hakiki negara maju adalah kemakmuran, keamanan dan keridloaan Tuhan ini. Ketiganya harus menjadi tujuan utama. Adapun kekuatan intelektual harus diperuntukkan untuk ketiga tujuan ini. Ilmu pengetahuan dan Tekhnologi yang tidak digunakan untuk kemakmuran rakyat, tidak untuk keamanan bangsa, dan tidak digunakan untuk mencari ridlo Tuhan, akan menghancurkan bangsa sendiri.
Untuk mencapai ketiga tujuan tersebut setiap individu bertanggung jawab akan negaranya. Karena kemakmuran, keamanan dan keridloan Allah tidak akan bisa diraih tanpa usaha setiap orang dalam kerangka jamaah. Bukan usaha dan kerja dari pemerintah dan penguasa saja. Agama harus menjadi pandangan hidup masyarakat dan menjadi pegangan hidupnya, karena dengan agama ini ridlo Allah akan diraih.
Dr. Abdul Mukti Bayumi dalam bukunya “Islam dan Negara Madani” menceritakan bahwa, negara maju adalah negara yang memiliki empat dasar dalam sistem politiknya: Persamaan, Kebebasan, Musyawarah dan Keadilan. Keempat elemen ini harus diberlakukan dalam negara Islam demi mencapai kemajuan. Menurut penulis, keempat dasar ini pun sudah ada dalam kandungan Islam yang Universal dan komprehensif ini.
Tanpa empat asas ini negara akan mundur walaupun ia mengatas-namakan negara Islam. Dalam sebuah atsar disebutkan, Sesungguhnya Allah akan menolong negara adil walaupun tidak Islam dan Allah akan menghancurkan negara dzalim sekalipun mengatasnamakan Negara Islam.
Itulah beberapa gambaran negara maju menurut al-Qur'an yang harus dimulai dengan pemilihan pemimpin yang bertakwa (al-Furqan: 74) dan bukan pemimpin-pemimpin yang dzalim (al-Baqarah: 124).
Dengan demikian, jikalau kemajuan masih menjadi cita-cita kita bersama maka segala potensi dalam negeri, baik SDM maupun SDA, harus diperhatikan seoptimal mungkin, untuk menciptakan kemakmuran, keamanan dan keridloan Tuhan. Tanpa harus meniru Barat yang telah menjadi negeri rumahsakit, akan tetapi menjadi negeri hotel dengan bangunan yang mewah, pun berpenghunikan orang-orang berkecukupan. Dan naudzubillah, ironis kalau negeri kita menjadi kolong jembatan, sebuah negeri yang miskin, kumuh, tidak tertib dan isinya juga orang-orang yang sakit baik jasmani maupun rohani. Lalu kapankah Indonesia maju? Jawabnya ada dipundak kita semua. Wallahu A'lam.[]
Oleh: Kholil Misbach Lc |