|
Antara dua insan, kerap kali mereka menuliskan kata smanka (red. semangka) di setiap kali bertemu atau berpisah. Pemahaman kita tentang semangka pasti satu, buah. Berbeda dengan dua insan yang disebut di atas, dengan kata itu mereka mempunyai sebuah ungkapan tersembunyi, semangat! Dengan bermain kata kita menemukan sensasi dan fantasi tersendiri dalam hidup. Berbahagia dalam hidup dengan bermain kata. Sebuah cerita dari imaginasi dan realita. Sebuah persahabatan dengan kata-kata rahasia. Bukan kata sebatas kata, ada sebuah ungkapan rahasia yang ingin disampaikan.
Berkaitan dengan permainan ungkapan dan bermain kata, menulis secara sederhana akan menafsirkan hal yang sama. Mengungkapkan sebuah ide, imajinasi dan fakta lewat uraian kata. Dengan latar belakang kampus yang tidak banyak menuntut makalah, paper, dan berbagai karya tulis lainnya mendukung kemandegan kegiatan tulis menulis pada tataran mahasiswa Timur Tengah. Sehingga kerap dijadikan nyiyiran sengit dari mahasiswa lulusan Barat yang menjustifikasi ketidakmampuan kita dalam membuat karya tulis; dengan berbagai bentuknya.
Sanggar dan pelatihan yang kian hari kian banyak digalakkan organisasi Masisir, bisa dianggap kurang mencukupi kebutuhan penulis, terlebih kalangan pemula. Karena sejatinya menulis bukan sebatas pada masalah teori dan materi. Menulis adalah ungkapan dan pengalaman pribadi. Setiap kita mempunyai karakter khas dalam menulis, dengan catatan kontinyuitas. Kegiatan menulis yang dilakukan intens akan lebih memberi banyak pengajaran dan pencerahan pada penulis itu sendiri. Selain materi dan teori, suasana dan keadaan sekitar juga turut mendukung imajinasi dan kelihaian kita dalam menulis. Menulis di ruangan tertutup dengan imajinasi yang serba membatasi cenderung membentuk tulisan serba kaku. Berbeda dengan ruang terbuka yang menawarkan banyak imajinasi dan fantasi demi mengalirnya tulisan yang sedang di garap.
Sekolah menulis Walisongo, menjawab keinginan penulis pemula khususnya, dan seluruh penulis umumnya. Dengan target meluluskan penulis dari kemandegan kreasi menulis, dengan mengutamakan sense pendekatan emosional yang jarang ada pada pelatihan menulis Masisir. “Karena kedekatan emosional yang nantinya terjalin dengan baik akan memberikan efek keterbukaan sepenuhnya, baik anggota atau yang sementara dianggap senior atau tutor”, demikian diungkapkan oleh Kepala Sekolah Menulis KSW.
Selain kedekatan emosional, ruang pun menjadi pertimbangan selanjutnya dalam penyelenggaraan sekolah menulis ini. Sehingga agenda perdana kegiatan ini memilih Masjid al-Hakim Bi Amrillah yang terletak di Bab el-Futuh. Masjid dengan ruang tengah terbesar kedua setelah Masjid Ibnu Thoulun akan menghadirkan suasana masa kejayaan Islam tempo Fatimi. Membuka ruang imajinasi selebar-lebarnya dalam berfantasi dan berdiskusi karya tulis pada tanggal 19 Nopember 2011 nanti.
Sejatinya sebuah sekolahan, kontinuitas dan keistiqomahan adalah kunci keberhasilan. Dan sekolah menulis Walisongo bukanlah sekolah kilat yang menuntut ke-instan-nan hasil. Proses menuju hasil lah yang paling penting, demi mewujudkan hasil maksimal. Sehingga sekolah Walisongo akan hadir setiap sebulan satu kali pertemuan. Dan tentu saja sekolah walisongo akan mengambil tempat-tempat bersejarah untuk dijadikan ruangan belajar. Dengan suasana alam dan landscap yang indah, diharapkan imajinasi terus meruak keluar menembus batas.
Dan mari hidup berbahagia dengan bermain kata! Mendiskusikan karya, mencurahkan rasa. Sekolah Menulis Walisongo menghadirkan ruang baru dalam mengolah kata-kata. [uli]
Tulisan Selanjutnya:
Tulisan Sebelumnya:
|
Comments
RSS feed for comments to this post