|
Perbincangan mengenai peralihan kepengurusan suatu organisasi. Ada beberapa tahap atau proses yang teramat penting, dan salah satu tahap yang paling penting adalah pemilihan pemimpin, yang mana akan memimpin membawa tongkat etafet organisasi selama setahun ke depan. Dan pada edisi kali ini, Tim Redaksi Prestasi menghadirkan wawancara ekslusif dengan para pemimpin organisasi terpilih yang akan memimpin organisasi masing-masing selama setahun ke depan.
Yang pertama adalah pemimpin organisasi induk kita sebagai Masisir, yaitu PPMI. Presiden PPMI, Muhammad Taufik. Yang tentu saja profilnya sudah kita kenal melalui proses kampanye sebelum pemilihan presiden. Di sela-sela kesibukannya menjalankan amanah sebagai Presiden PPMI, beliau menyempatkan diri untuk diwawancarai oleh kru Prestasi.
Kemudian yang kedua adalah Ketua KSW, kekeluargaan kita tercinta. Rangkaian RPA KSW pada tanggal 10 Agustus telah menghasilkan seorang sosok pemimpin yang sudah begitu akrab dan dekat dengan warga KSW, Suyatno Ja'far Shodiq. Atau "Mbah Yatno", begitulah beliau akrab disapa oleh warga KSW. Sebagai mana embel-embel "Mbah" yang disandangnya, beliau memang sosok yang njawani, dan mengayomi warga KSW.
Dan yang ketiga kami coba ambilkan dari perwakilan almamater yang berada di KSW. IKAMARU, adalah singkatan dari Ikatan Keluarga Madrasah Raudlatul Ulum. Dan yang terpilih untuk memegang amanah sebagai ketua Almamater IKAMARU peride 2009-2010 adalah saudara Muhammad Ismail.
Berikut adalah hasil wawancara kru Prestasi; Pretasi (P) : Jika sedikit flashback ke masa pemilihan pemimpin organisasi. Apa motivasi anda menjadi pemimpin organisasi yang rencananya akan anda motori, serta faktor plus apa saja yang mendukung anda?
Presiden (Pres) : Yang pertama memang ada juga semacam motivasi dari teman-teman dekat, kalau memang ada kemampuan untuk mengelola suatu organisasi, tidak ada salahnya untuk maju dan kita mencoba mengaplikasikan hadits Rosul, ”Khoirunnas anfa’uhum linnas”). Yakni ketika kita diberikan amanah, kita mempunyai peluang untuk berkhidmah, memberikan yang terbaik yang sekiranya kita bisa berikan, dan berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat. Dan sebenarnya kalau kita berbicara tentang kelebihan sendiri, itu mungkin sesuatu yang kurang positif. Kita harus tahu diri, kalau memang kita tahu dari sudut pandang kita dan kita berusaha dengan sesuatu yang kita ketahui dengan kemampuan yang kita miliki, kita akan mencoba mengeluarkannya seoptimal mungkin. Walaupun nantinya di lapangan pastinya ada kekurangan disana-sini, ataupun ada rencana yang tidak terealisasi secara optimal itu merupakan hal yang wajar. Tapi kita harus punya persiapan yang matang juga. Dalam artian, bukannya takabbur, tapi kriteria-kriteria sebagai pemimpin harus diasah, diantaranya persiapan fisik dan mental serta jangan mempunyai motivasi yang lain kecuali berkhidmah dan menjadi orang yang bermanfaat. Selain itu, kita juga harus tahu kekurangan kita dan bagaimana menyikapinya. Intinya adalah kelebihan dan kekurangan yang kita miliki harus bisa kita kelola.
Ketua KSW (Ket-KSW) : Dorongan dan kepercayaan dari orang-orang sekitar yang menimbulkan perasaan kami terpanggil untuk berkhidmah mengemban amanah ini. Merasa pantas tentu di miliki semua calon ketua dan ketua, toh kita semua adalah seorang pemimpin untuk diri kita sendiri. Maka kami yang siap diri menjadi ketua tentu merasa pantas dari segi subyektif pribadi, dan atas penilaian, dorongan orang-orang sekitar yang mempercayakan amanah ini kepada saya.
Saya bukanlah orang yang terbaik dari mereka, tapi saya berusaha untuk memberikan yang terbaik buat mereka. Kepantasan ini kami gali dari kepercayaan orang di sekitar kami yang mendorong mendukung dan siap membantu kami selama kepemimpinan ini, dan karena kami di percaya mampu mengemban melanjutkan kepemimpinan ini, juga karena kami sendiri sudah banyak mengetahui seluk beluk perjalanan organisasi ini. Ketua IKAMARU (Ket-IKAMARU) : Kalau bagi saya pribadi, posisi sebagai ketua bukanlah sebuah jabatan. Namun lebih tepatnya dengan sebutan khodim atau pelayan umat. Dan kalau boleh saya analogikan posisi ketua adalah ibarat kedudukan imam dalam sholat jamaah. Jadi biarlah makmum yang menentukan. Maka celakalah seorang imam, jika makmumnya tidak ridlo atasnya. Makmum akan senantiasa mengikuti imam selama imam itu dalam kebenaran, namun tak segan-segan untuk menegur sang imam jika salah dan lupa. Maka saya teringat kisah sayyidina Umar ra. ketika selesai berkhotbah ada salah seorang sahabat berkata : wahai amirul mukminin jikalau engkau melenceng dari jalan Allah, niscaya aku akan meluruskannya dengan pedangku ini. Sayyidina Umar pun tersenyum mendengarnya. Mengenai potensi untuk menjadi seorang pemimpin, saya rasa semua orang pasti mempunyai potensi tersebut. Dan satu hal yang perlu kita ingat adalah setiap orang itu pasti mempunyai sebuah kelebihan, namun tak pernah lepas dari sebuah kekurangan. Karena tidak ada manusia yang sempurna kecuali orang-orang yang dikehendakiNya.
P : Bagaimana perasaan anda saat terpilih menjadi pemimpin di organisasi anda? Pres : Yang jelas, boleh dibilang ketika sudah dilantik memang harus bisa langsung menjiwai bahwa kita diberikan suatu amanah yang besar dan sudah langsung mempunyai beban, tapi dalam artian mempunyai beban yang positif agar kalau misalnya ketika kita diberikan tanggung jawab itu bisa menjadi motivasi yang kuat agar bisa menjalankan amanah dengan optimal.
Ket-KSW : Perasaan saya campuraduk sulit di terjemahkan antara terharu, senang, takut dengan beban tanggung jawab yang akan dipikul. Saya tidak sedrajad dengan Umar bin Khattab bahkan jauh dari itu, yang mana ketika Umar bin Khattab terpilih menjadi seorang Khalifah, mengucapkan Tarji' (Innalillahi wainna ilahi roji'un) mengatakan ini musibah. Hanya saya berusaha menerjemahkan tarji' Umar bin Khattab itu, bahwa pemimpin pribadi beralih ke pemimpin organisasi itulah yang menjadi beban mengemban amanah ini.
Ket-IKAMARU : Terus terang saya pribadi merasakan sebuah kebahagiaan & kepuasan tersendiri. Ketika saya memegang tampuk pimpinan ini. Mengapa? karena saya berharap semoga saya termasuk salah satu dari orang yang pernah disebut baginda Nabi dalam salah satu sabdanya, "Bahwa sebaik-baik manusia adalah seseorang yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain". Kemudian faktor yang lain, mungkin bukanlah hal yang tidak kita nafikan bahwasanya kita adalah seorang mahasiswa. Yang mana tugas utamanya adalah belajar. Dan berorganisasi adalah termasuk bentuk belajar, khususnya belajar dalam peran kita sebagai makhluk sosial. Dan menjadi seorang leader dalam sebuah organisasi, merupakan sebuah pengejewantahan dari salah satu hadits Nabi yang berbunyi: "bahwa setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya".
P : Bagaimana menurut anda tentang periode kepengurusan sebelum anda? Bagaimana anda menyikapi "warisan" permasalahan yang belum terseleseikan pada periode sebelum anda ?
Pres : Kita tidak bisa memahami sukses atau gagal dengan hanya melihat LPJ saja atau melihat dari kerja-kerja yang telah dilakukan. Yang perlu kita lakukan adalah evaluasi. Kalau kita menilai tahun kemarin, mereka telah mencoba memberikan yang terbaik. Diantaranya, adanya diskusi-diskusi rembug organisasi yang mempunyai tujuan bagus, tentang pengurusan mahasiswa baru yang perlu kita berikan apresiasi, tentang bagaimana mereka mengelola acara dengan mendatangkan banyak massa seperti malam kenduri. Namun, kekurangan-kekurangan itu tidak bisa kita nafikan, misalnya ada beberapa penyikapan terhadap kejadian yang agak lambat ataupun kekurangan lainnya. Yang jelas, kita harus menilai secara obyektif, tidak memojokkan, dan lebih kita ambil sebagai pelajaran. Mengenai program kerja, memang ada program yang belum terlaksana dan yang sudah terlaksana tapi kurang optimal. Kalau misalnya ada program yang sudah ada dan itu memang efektif, maka bisa kita jalankan, atau bisa kita optimalkan, atau mungkin kalau sudah optimal kita bisa belajar dari situ. Mengenai masalah-masalah yang krusial itu bisa kita usahakan, kita tetap mengikuti dan mengantisipasi dengan tetap melanjutkan estafet dan melihat masalah secara jernih. Yang bisa kita selesaikan, kita diselesaikan, kalau memang tidak bisa diselesaikan, kita bantu untuk mencarikan solusi yang terbaik.
Ket-KSW : Periode tahun kemarin bisa di bilang cukup secara organisasi, terbukti banyak program yang terrealisasikan, walaupn masih tersisa agenda lain yang masih tertinggal, adapun adanya complain warga pada periode kemarin murni kesalahan individu yang menyangkut nama baik organisasi. Tentu warisan masalah tahun lalu akan kami selesaikan dan perbaiki demi kemaslahatan warga, masalah program akan kami teruskan mana yang baik dan mengganti yang kurang baik.
Ket-IKAM : Setiap organisasi pasti mengalami sebuah pasang surut dan maju mundur. Dan saya melihat kepengurusan sebelum saya itu adalah terbilang sukses walaupun masih ada sisi-sisi kekurangannya. Namun itu adalah wajar. Dan saya tidak mengatakan gagal, karena kegagalan bagi saya hanyalah kesuksesan yang tertunda. Dan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang masih menjadi sebuah kendala dalam kepengurusan sebelumnya, itu pasti adalah sebuah keniscayaan karena setiap permasalahan pastilah ada solusinya ibarat penyakit pasti ada obatnya. Sebagaimana sebuah kaidah ""المحافظة علي القديم الصالح والأخذ بالجديد الأ صلح Dengan senantiasa melestarikan hal-hal lama yang baik, dan mengambil hal-hal baru yang tentunya lebih baik.
Umar bin Khattab itu, bahwa pemimpin pribadi beralih ke pemimpin organisasi itulah yang menjadi beban mengemban amanah ini.
Ket-IKAMARU : Terus terang saya pribadi merasakan sebuah kebahagiaan & kepuasan tersendiri. Ketika saya memegang tampuk pimpinan ini. Mengapa? karena saya berharap semoga saya termasuk salah satu dari orang yang pernah disebut baginda Nabi dalam salah satu sabdanya, "Bahwa sebaik-baik manusia adalah seseorang yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain". Kemudian faktor yang lain, mungkin bukanlah hal yang tidak kita nafikan bahwasanya kita adalah seorang mahasiswa. Yang mana tugas utamanya adalah belajar. Dan berorganisasi adalah termasuk bentuk belajar, khususnya belajar dalam peran kita sebagai makhluk sosial. Dan menjadi seorang leader dalam sebuah organisasi, merupakan sebuah pengejewantahan dari salah satu hadits Nabi yang berbunyi: "bahwa setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya".
P : Bagaimana menurut anda tentang periode kepengurusan sebelum anda? Bagaimana anda menyikapi "warisan" permasalahan yang belum terseleseikan pada periode sebelum anda ?
Pres : Kita tidak bisa memahami sukses atau gagal dengan hanya melihat LPJ saja atau melihat dari kerja-kerja yang telah dilakukan. Yang perlu kita lakukan adalah evaluasi. Kalau kita menilai tahun kemarin, mereka telah mencoba memberikan yang terbaik. Diantaranya, adanya diskusi-diskusi rembug organisasi yang mempunyai tujuan bagus, tentang pengurusan mahasiswa baru yang perlu kita berikan apresiasi, tentang bagaimana mereka mengelola acara dengan mendatangkan banyak massa seperti malam kenduri. Namun, kekurangan-kekurangan itu tidak bisa kita nafikan, misalnya ada beberapa penyikapan terhadap kejadian yang agak lambat ataupun kekurangan lainnya. Yang jelas, kita harus menilai secara obyektif, tidak memojokkan, dan lebih kita ambil sebagai pelajaran. Mengenai program kerja, memang ada program yang belum terlaksana dan yang sudah terlaksana tapi kurang optimal. Kalau misalnya ada program yang sudah ada dan itu memang efektif, maka bisa kita jalankan, atau bisa kita optimalkan, atau mungkin kalau sudah optimal kita bisa belajar dari situ. Mengenai masalah-masalah yang krusial itu bisa kita usahakan, kita tetap mengikuti dan mengantisipasi dengan tetap melanjutkan estafet dan melihat masalah secara jernih. Yang bisa kita selesaikan, kita diselesaikan, kalau memang tidak bisa diselesaikan, kita bantu untuk mencarikan solusi yang terbaik.
Ket-KSW : Periode tahun kemarin bisa di bilang cukup secara organisasi, terbukti banyak program yang terrealisasikan, walaupn masih tersisa agenda lain yang masih tertinggal, adapun adanya complain warga pada periode kemarin murni kesalahan individu yang menyangkut nama baik organisasi. Tentu warisan masalah tahun lalu akan kami selesaikan dan perbaiki demi kemaslahatan warga, masalah program akan kami teruskan mana yang baik dan mengganti yang kurang baik.
Ket-IKAM : Setiap organisasi pasti mengalami sebuah pasang surut dan maju mundur. Dan saya melihat kepengurusan sebelum saya itu adalah terbilang sukses walaupun masih ada sisi-sisi kekurangannya. Namun itu adalah wajar. Dan saya tidak mengatakan gagal, karena kegagalan bagi saya hanyalah kesuksesan yang tertunda. Dan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang masih menjadi sebuah kendala dalam kepengurusan sebelumnya, itu pasti adalah sebuah keniscayaan karena setiap permasalahan pastilah ada solusinya ibarat penyakit pasti ada obatnya. Sebagaimana sebuah kaidah ""المحافظة علي القديم الصالح والأخذ بالجديد الأ صلح Dengan senantiasa melestarikan hal-hal lama yang baik, dan mengambil hal-hal baru yang tentunya lebih baik.
P : Apa langkah-langkah awal yang anda ambil pada masa awal periode kepengurusan anda? Dan gebrakan apa yang anda rencanakan pada periode anda? Pres : Memang awal-awal ini targetnya adalah membangun kesolidan internal, dengan mencari teman-teman di kabinet yang mempunyai komitmen. Walaupun dalam prakteknya memang susah dan itu adalah sebuah kendala klasik, tetapi kita berusaha agar program kerja bisa dijalankan dengan efektif. Yang kedua adalah mencoba membangun jaringan dengan instansi-instansi vital di Mesir, seperti security dan Al-Azhar. Yang ketiga, memperkuat jaringan dengan KBRI dan organisasi-organisasi di lingkup PPMI baik kekeluargaan, senat, afiliasi, dll. Secara informal, sudah ada yang dilaksanakan. Adapun secara formal, ada agenda yang akan kita laksanakan dalam waktu dekat. Gebrakan yang kita canangkan dari awal adalah kita ingin mencoba agar teman-teman mempunyai spesialisasi dalam bidang masing-masing. Diantaranya, dengan mengadakan beberapa pelatihan dan mengembangkan lembaga bahasa. Apabila terwujud, diharapkan masisir mempunyai sebuah panduan yang bisa mengatasi kendala – kendala yang dialami.
Ket-KSW : Langkah awal yang kami tempuh pada awal-awal periode ini akan mensinergikan dan mengharmoniskan organisasi dengan elemen lain yang kami pimpin baik internal maupun external, karena organisasi bukan tujuan kita, hanya sarana untuk mnecapai tujuan itu, jadi jangan salah tafsir organisasi adalah segalanya. Jadi dengan sinergi dan harmonis kita bisa belajar dengan tenang dan nyaman tanpa ada hambatan masaalah. Target kami ialah mengantarkan warga untuk sukses berkarya dan studi dalam arti KSW adalah sarana untuk batu pijakan ke batu yang lain. Program unggulan kami atau gebrakan kami diantaranya ialah Mengadakan pentas seni sejawa dan Madura yang selama ini belum ada, perbandingan budaya antar kekeluargaan, exploring (pengenalan ) kairo dan rihlah toko buku, pekan sehat KSW, pekan ilmiah dan penyusunan buku ilmiah. Persiapan kami, untuk mensukseskan acara ini tentu akan kami informasikan dan komunukasikan kepada yang bersangkutan. Ket-IKAM : Sebagai langkah awal dari berjalannya roda organisasi tentunya kita mencoba untuk mencari bibit unggul dan juga orang-orang pilihan pilihan yang mempunyai komitmen dan bersedia untuk menemani kita dalam melayani umat. Dalam masa kepengurusan kami, kami mempunyai sebuah visi yaitu menjadikan organisasi sebagai penunjang sukses studi. Maka berangkat dari ini lah, kami mencoba untuk mengarahkan seluruh kegiatan organisasi ini untuk mecapai tujuan tersebut. Misalnya dalam berorganisasi ini kami mempelajari hal-hal yang mungkin tidak kita temukan dalam bangku kuliah. Atau dalam berorganisasi ini, kita mencoba untuk mengaplikasikan ilmu yang telah kita dapatkan di perkuliahan. Dan berangkat dari kesadaran bahwa kita adalah pelayan umat, kita dan organisasi yang kita miliki adalah hanya sebagai wadah dan fasilitator untuk menampung semua aspirasi dari sahabat-sahabat semua. Dan kita tahu, anggota organisasi pasti memiliki kecendurungan minat yang berbeda-beda. Maka untuk menyiasati ini, kami mencoba untuk memberikan wadah berupa kegiatan-kegiatan intensif disamping kegiatan-kegiatan reguler yang telah dicanangkan. Dan kegiatan intensif ini kita arahkan kepada hal-hal yang memang benar-benar disukai dan sesuai dengan bakat yang dimiliki oleh anggota yang bersangkutan.
P : Bagaimana pendapat anda mengenai lesunya pergerakan organisasi di Masisir? Pres : Banyak faktor yan menyebabkannya, khususnya bagi organisasi mempunyai ketergantungan dengan mahasiswa tingkat 2 atau 3 apalagi yang mempunyai ketergantungan denga mahasiswa baru terjadi kesulitan dalam perekrutan pengurus karena memang regenerasinya agak tersumbat. Kendala lain yang termasuk adalah, sudah adanya kesadaran dalam diri masisir terhadap pentingnya organisasi dalam menunjang akademis tetapi mungkin karena semangat yang kurang, atau mungkin merasa jemu sehingga lari dari substansi yang ada karena terjebak dalam berbagai rutinitas. Maka dari itu, perlu adanya revitalisasi dan kita tingkatkan semangat berorganisasi, agar dengan berorganisasi itu bisa mendukung akademis dan supaya tidak terjadi kontradiktif. Dan hal yang perlu diubah adalah sikap dan cara pandang kita terhadap organisasi itu sendiri.
Ket-KSW : Perjalanan masa yang menuntut perubahan berorganisasi seperti ini, organisasi sekarang sudah sangat berbeda jauh dengan masa berorganisasi 90an, sekarang kita sudah sangat dimanja dengan sarana dunia maya, yang cukup duduk manis di depan computer kita bisa mengetahui dunia. Adapun lokakarya atau keterlambatan maba tidak menjadi pengaruh. Solusi yang kami tawarkan ialah, kita berikan hak-hak mereka, dengan kata lain kita jangan terjebak dengan banyaknya paroker biar di bilang wah, sehingga menjenuhkan pikiran mereka. Kita jangan merampas hak-hak orang lain, misal kita kekeluargaan, kita jangan mengambil agenda senat semua, justru kita berikan hak mereka dengan menjalin kerjasama dengan senat. Kekeluargaan adalah duta masyarakat, walaupun KSW lahir dari kelompok kajian bukan berarti kita garap semua PR akademis. Kekeluargaan, kata para senior kami terdapat segi tiga mas, satu berkeluarga (hidup di rumah bersama keluarga atau temen satu rumah), dua bermasyarakat (berkumpul dan bermasyarakat bersama di perwakilan kekeluargaan masing-masing) tiga berakademis (belajar di universitas dan lainya). Kekelurgaan sangat komplek sekali komunitasnya, jangan pukul rata semua yang menyebabkan kejemuan warga dalam berorganisasi.
Ket-IKAM : Saya mengakui bahwa pergerakan masisir akhir-akhir ini sedikit mengalami kelesuan. Kalau menurut saya, mungkin ini disebabkan karena terlalu berjibunnya kegiatan-kegiatan organisasi. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa organisasi di masisir ini begitu banyak bak jamur di musim hujan. Dan rata-rata kegiatannya sama dan itu-itu saja. Sehingga mungkin ini adalah salah satu faktor timbulnya rasa kebosanan dalam tubuh masisir itu sendiri. Mengenai lokakarya tahun kemarin, saya rasa itu memang sudah pas. Sudah saatnya kita kembali berdinamika dalam dunia akademis, namun tanpa mengesampingkan bahwa berorganisasipun tidak kalah pentingnya. Maka kalau bisa standart untuk mahasiswa ideal adalah sukses studi dan juga sukses organisasi.
P : Apa harapan anda untuk organisasi Masisir ke depan? Pres : Yang pertama harapan untuk masisir sendiri adalah kita jangan sampai meninggalkan jati diri kita sebagai mahasiswa Islam, bukan hanya main-main tapi kita dihadapkan dengan realita yang ada. Dan harapan untuk organisasi-organisasi di masisir diusahakan kegiatan-kegiatan yang kita bangun kira-kira tidak perlu banyak program tapi dengan program yang sedikit itu bisa membawa pengaruh yang baik, walaupun ini perlu waktu yang lama tapi setidaknya kita bisa memulainya. Dan diharapkan agar organisasi itu berjalan secara proporsional, untuk kekeluargaan garapan yang cocok apa, untuk senat garapan yang cocok apa sehingga bisa saling mensinergikan dan tidak ada benturan.
Ket-KSW : Harapan kami untuk organisasi Masisir ke depan semoga bisa semakin dewasa dalam berorganisasi dan tidak terjebak dengan organisasi itu sendiri dari tujuan awal kita datang ke mesir ini, organisasi adalah sarana untuk mencapai tujuan kita, juga harapan kami supaya jangan terjebak politik praktis dari politik nasional di bawa ke politik Masisir, yang bisa memecah belah kebersamaan Masisir. Mari kita renovasi bersama demi cita-cita luhur kita sebagai duta bangsa. Ket-IKAM : Dan harapan saya untuk organisasi masisir kedepan adalah lebih meningkatkan kualitas anggota yang mana itu adalah berangkat dari kesadaran diri. Dan memilih hal yang terbaik dari hal-hal yang terbaik untuk para anggotanya. karena kita semua masih dalam tahap belajar.[]
-Tim Redaksi Buletin PRESTãSI-
|